1. Haki ka t Coop erative Learning
Memahami hakikat dari Cooperative Learning, ada beberapa definisi dari para ahli bahasa tentang makna dari istilah Cooperative Learning. David dan Roger Johnson memberikan definisi tentang cooperative learning , yaitu bahwa cooperative learning merupakan strategi pengajaran yang berhasil di dalam membent uk
kelompok kecil yang masing-masing kelompok tersebut terdiri dari
siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda sehingga mereka
bisa bekerjasama dan saling membantu sesama lainnya.
Masing-masing anggota kelompok mempunyai tanggung jawab tidak hanya
pada apa yang telah diajarkan oleh guru tapi juga membantu teman-teman
sekelompoknya dalam belajar, sehingga bisa menciptakan suasana
keberhasilan.[1] Sementara Jack C. Richards dan Willy A. Renandya menyatakan dalam kutipannya yaitu:
Cooperative
learning principles and techniques are tools which teachers use to
encourage mutual helpfulness in the groups and the active particiation
od all members . [2]
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip dan teknik dari Cooperative Learning
adalah alat yang digunakan oleh seorang guru untuk mendorong
siswa-siswanya untuk saling membantu di dalam kelompoknya dan aktif
berperan serta di dalam memecahkan masalah.
1.1. Model Cooperative Learning
Pada model cooperative learning
guru membentuk kelas menjadi beberapa kelompok dengan kemapuan yang
berbeda-beda (lihat lampiran 9) yang mempunyai sifat saling bekerjasama,
ketergantungan positif, dan saling memberi manfaat satu sama lainnya
dalam satu kelompok. Manfaat dari cooperative learning tersebut adalah membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan model pembelajaran cooperative learning
ini diharapkan akan meningkatkan motivasi belajar siswa, sifat
koperatif, dan yang paling utama adalah bisa meningkatkan hasil belajar
siswa yang maksimal.
1.2. Komponen model Cooperative Learning
Dalam penerapan model cooperative learning ada beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan agar model cooperative learning dapat berlangsung dengan baik. Ada lima komponen utama yang harus diterapkan dalam pelaksanaannya.[3] . Kelima komponen tersebut adalah sebagai berikut.
1.2.1. Saling Ketergantungan Positif (Possitive Interdependence )
Setiap anggota dalam satu kelompok akan memiliki tanggung jawab yang
berbeda-beda, namun perbedaan tersebut akan menimbulkan kerja sama untuk
mencapai hasil yang diharapkan. Meskipun ada beberapa anggota yang
kurang mampu, beberapa anggota lagi yang mampu akan saling membantu.
Komponen ini memiliki pandangan bahwa seorang dalam satu kelompok
berkaitan dengan yang lainnya dalam satu cara, seseorang tidak akan
berhasil jika anggota kelompok yang lain juga tidak berhasil. Komponen
ini mengandung makna bahwa keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan
bersama begitu juga kegagalan seseorang adalah kegagalan bersama.
1.2.2. Interaksi timbal balik berhadap-hadapan (face-to-face interaction )
Sesuai dengan namanya yaitu cooperative learning
, maka setiap siswa harus saling bertemu muka dan berdiskusi untuk
saling berinteraksi sesama anggota. Bagaimanapun hasil pemikiran
beberapa anggota, meskipun ada yang kurang mampu, akan lebih bermanfaat
dari pada hasil pemikiran perseorangan atau individu. Unsur ini
bertujuan untuk saling memberikan kesempatan untuk mengutarakan
pendapatnya yang mungkin berbeda-beda dan saling mengisi kekosongan
sesama anggota. Pada komponen ini, siswa perlu melakukan pekerjaan yang
nyata bersama-sama untuk mencapai keberhasilan bersama dengan saling
membantu, mendukung, mendorong, dan menghargai masing-masing usaha
anggotanya.
1.2.3. Tanggung Jawab Perseorangan dan kelompok (Individual and Group Accountability )
Pada unsur ini seorang guru mempunyai peranan penting dalam menyusun
tugasnya dalam membentuk setiap kelompok karena setiap siswa akan merasa
bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik untuk kelompoknya.
Sehingga bagi siswa yang kelihatan tidak melaksanakan tugasnya dengan
baik akan jelas diketahui. Dua tingkatan pada pertanggungjawaban harus
disusun pada pembelajaran cooperative learning , yaitu (1)
kelompok harus bertanggung jawab untuk mencapai tujuannya dan (2)
masing-masing angota harus bertanggung jawab untuk memberikan
kontribusinya terhadap pendapatnya.
1.2.4. Keterampilan berkomunikasi Antaranggota (Interpersonal and small group skills )
Komponen ini mencakup kepemimpinan, pengambilan keputusan, membangun
kepercayaan, dan komunikasi bagi pelajar untuk bekerjasama secara
produktif. Keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan pada komponen
ini karena tanpa komunikasi kerja kelompok kurang bisa berjalan dengan
lancar di sini guru memiliki peranan penting untuk mengajarkan cara-cara
berkomunikasi atau mengutarakan pendapatnya seperti bagaimana
menyampaikan pendapatnya, bagaimana menaggapi pendapat teman kelompoknya
dan bagaimana menyanggah pendapat anggota kelompoknya supaya tidak
merasa tersinggung. Karena tidak semua siswa memiliki kemampuan
berkomunikasi. Cooperative learning merupakan pembelajaran yang
lebih kompleks dari pada pembelajaran kompetitif atau individualistik
karena siswa harus bekerjasama secara terus menerus dalam menyelesaikan
tugas-tugas pembelajaran (mempelajari mata pelajaran akademis) dan kerja
kelompok (mefungsikan secara efektif sebagai anggota kelompok).
1.2.5. Evaluasi Pembentukan Kelompok (Group processing )
Komponen ini menyarankan untuk saling mengevaluasi hasil kerja kelompok
setelah selesai berdiskusi supaya selanjutnya bisa bekerja sama dengan
lebih baik dan lebih efektif. Evaluasi ini bisa dilakukan setelah
beberapa kali siswa terlibat dalam proses pembelajaran dengan model cooperative learning .
Pembentukan kelompok terjadi bila angota kelompok berdiskusi sejauh
mana keberhsilan mereka dalam mencapai sasaran dan mengatur hubungan
kerja yang efektif. Setiap kelompok perlu mendiskripsikan apa tindakan
anggota yang membantu dan tidak membantu serta membuat keputusan tentang
sikap apa yang perlu ditingkatkan atau diubah. Peningkatan yang terus
menerus pada hasil pembelajaran dari bagaimana para anggota bekerja sama
dan menentukan bagaimana keefektifan kelompok bisa ditingkatkan4]
1.3. Langkah–langkah dalam Pembelajaran Model Cooperative Learning
Sebelum menerapkan proses pembelajaran menggunakan model cooperative learning
, seorang guru tentunya harus memahami langkah-langkah apa saja yang
harus dilaksanakan supaya proses pembelajaran tersebut bisa berlangsung
sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk itulah maka adanya perencanaan
sebelum pelaksanaan. Perencanaan tersebut yang di dalamnya terdapat
rumusan langkah-langkah secara operasional dalam melaksanakan
pembelajaran menggunakan model cooperative learning. Langkah-langkah
tersebut adalah sebagai berikut.[5]
1.3.1. Langkah pertama, merancang rencana program pembelajaran.
Pada
langkah ini guru merencanakan apa-apa saja yang harus dikerjakan oleh
seorang guru supaya kegiatan pembelajaran bisa berjalan dengan lancar
dan tidak ada hambatan. Perencanaan tersebut berupa (1) penetapan sikap
dan keterampilan sosial yang harus dikembangkan oleh siswa, (2)
pengorganisasian materi dan tugas-tugas siswa dalam kelompok kecil, dan
(3) penjelasan tentang tujuan dan sikap serta keterampilan sosial yang
harus dimiliki oleh setiap siswa.
1.3.2.
Langkah kedua, merancang lembar observasi yang digunakan untuk
mengobservasi proses pembelajaran. Dalam langkah ini guru lebih banyak
berperan sebagai observer, fasilitator, pembimbing, dan juga motivator.
Pada saat siswa-siswa sedang melakukan kerja kelompok guru memonitor
serta mengobservasi kegiatan belajar siswa berdasarkan lembar observasi yang telah dirancang.
1.3.3. Langkah ketiga, pada saat
mengobservasi, guru juga mengarahkan dan membimbing siswa-siswa dalam
kelompok baik secara individual maupun kelompok sehingga adanya
kolaborasi antara siswa dengan siswa serta antara siswa dengan guru.
1.3.4.
Langkah keempat, pemberian kesempatan kepada masing-masing kelompok
untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Pada langkah ini, guru
berperan sebagai moderator dengan maksud untuk mengarahkan dan
mengoreksi pengertian dan pemahaman siswa terhadap hasil kerja kelompok
yang ditampilkan. Pada saat sesi presentasi berakhir, guru mengajak
siswa untuk merefleksikan diri terhadap kelemahan-kelaemahan apa saja
yang terjadi selama proses kerja kelompok sehingga bila ada
kelemahan-kelemahan bisa diperbaiki untuk langkah berikutnya.
1.4. Metode Cooperative Learning
Selain langkah-langkah dalam model pembelajaran cooperative learning tersebut, ada beberapa petunjuk yang bisa bermanfaat guna memulai berbagai macam tipe pada metode cooperative learning yang di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Jelaskan kepada siswa bahwa kerja sama itu penting dan bermanfaat.
b. Pastikan
bahwa setiap siswa tahu tugas-tugasnya. Misalnya melibatkan diri pada
kegiatan kelas, berikan beberapa menit kepada setiap kelompok sebelum
kelas mulai untuk menyusun perencanaan dan untuk menyampaikan apa yang
akan mereka lakukan.
c. Di
dalam kerja kelompok, guru memantau setiap kelompok dan mendengarkan
serta pastikan bahwa siswa-siswa tidak bingung dalam melaksanakan
kegiatannya.[6]
Dengan petunjuk tentang penerapan model cooperative learning di atas diharapkan guru dapat menerapkan model cooperative learning dengan baik dan benar sehingga siswa-siswa mengerti dan memahami tentang penerapan model cooperative learning . Selain itu guru juga bisa menjelaskan kepada siswa-siswa akan arti pentingnya manfaat dari kerja kelompok.
1.5. Teknik Cooperative Learning
Untuk mengelola proses pembelajaran dengan model cooperative learning
agar proses kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan baik, maka
perlu diketahui beberapa teknik-teknik yang bisa digunakan dalam model
pembelajaran tersebut. ada beberapa contoh teknik-teknik pada
pembelajaran cooperative learning yang bisa diterpkan di kelas. Teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut::
1.5.1. Mencari Pasangan (Make a Match )
Teknik belajar mengajar mencari pasangan ini adalah siswa mencari
pasangan sambil belajar tentang suatu konsep atau topik dalam suasana
yang menyenangkan. Pada teknik ini guru menyiapkan beberapa kartu yang
berisi tentang topik pembahasan dan setiap siswa mendapatkan satu buah
kartu. Kemudian setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu jenis
yang sama yang selanjutnya siswa bisa bergabung dengan dua atau tiga
siswa yang lain yang memegang kartu yang sama atau cocok. Misalnya,
pemegang kartu orange akan membentuk kelompok dengan pemegang kartu apple dan grape .
1.5.2. Bertukar Pasangan
Tekni belajar bertukar paangan memberi siswa kesempatan untuk bekerja
sama dngan siswa yang lain. Pada teknik ini siswa mendapatkan satu
pasangan dan guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara
berpasangan. Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan
yang lain dan masing-masing pasangan yang baru saling menanyakan dan
memberikan jawaban mereka yang kemudian jawaban itu diberikan kepada
pasangan semula.
1.5.3. Berpikir-Berpasangan-Berempat (Think-Pair-Share )
Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja
sama dengan siswa yang lain. Pada teknik ini guru membagi siswa dalam
kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok kemudian setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri. selanjutnya
siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi
dengan pasangannya, setelah itu kedua pasangan bertemu kembali dalam
kelompok berempat dan siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil
kerjanya kepada kelompok berempat
1.5.4. Berkirim Salam dan Soal
Teknik ini mendorong siswa untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang
dibuat oleh teman-teman sekelasnya. Pada teknik ini guru membagi siswa
dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan
beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok yang lain. Kemudian,
masing-masing kelompok mengirim satu orang utusan ang akan menyampaikan
salam dan soal dari kelompoknya. Setelah selesai, jawaban masing-masing
kelompok dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal.
1.5.5. Kepala Bernomor (Numbered Heads )
Teknik belajar ini memberikan kesempatan kepada siswa-siswa untuk
saling berbagi ide-idenya serta jawaban-jawabannya yang benar. Pada
teknik ini
masing-masing
siswa di dalam kelompoknya memiliki sebuah nomor, misalnya nomor 1, 2, 3
dan 4. Kemudian guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok
mengerjakannya. Setelah itu setiap kelompok memutuskan jawaban yang
dianggap paling benar dan setiap anggota kelompok diharapkan mengetahui
jawabannya. Selanjutnya guru memanggil salah satu nomor dan siswa dengan
nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama kelompoknya.
15.6. Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray )
Teknik ini dapat memberi kesempatan kepda kelompok untuk membagikan
hasil dan informasi dengan kelompok lain. Pada teknik pembelajaran ini
siswa bekerja sama dalam kelompok berempat dan dua orang dari
masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya. Setelah selesai,
masing-masing bertemu di dua kelompok lain. Selanjutnya dua siswa yang
tinggal dalam kelompok mempunyai tugas untuk membagi-bagikan hasil kerja
dan informasi mereka ke tamu yang lain. Akhirnya, kelompok mencocokkan
dan membahas hasil kerja mereka.
1.5.7. Keliling Kelompok
Pada teknik belajar mengajar Keliling Kelompok ini masing-masing siswa
dalam kelompoknya mendapatkan kesempatan untuk memberikan dan menerima
pandangan dari anggota lain. Caranya yaitu salah satu siswa dalam
masing-masing kelompok memulai dengan memberikan pendapatnya tentang
tugas yang sedang mereka kerjakan. Kemudain anggota kelompok yang lain
juga diharapkan untuk memberikan pendapatnya dan seterusnya sampai arah
pembicaraan berputar sesuai dengan arah jarum jam.
1.5.8. Kancing Gemerincing
Pada tekinik ini masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan
untuk memberikan pendapatnya dan mendengarkan pendapat dari anggota
lain. Teknik Kancing Gemerincing ini mendorong setiap siswa untuk
berperan serta dalam pembelajaran. Dalam pelaksanaan teknik ini guru
menyiapkan satu kotak kecil yang berisi kancing-kancing. Sebelum setiap
kelompok memulai tugasnya, setiap siswa dalam masing-masing kelompok
mendapatkan dua atau tiga buah kancing dan setiap kali siswa berbicara
atau berpendapat, siswa tersebut harus menyerahkan satu
kancingnya dan meletakkan di tengah-tengah. Jika kancing yang dimiliki
seorang siswa habis, dia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk
berpedandapat sampai semua rekannya juga menghabiskan kancingnya. Namun
setelah semua kancing habis sementara tugas belum selesai, kelompok
diperbolehkan untuk membagi kancingnya lagi dan mengulangi prosedurnya
kembali.
1.5.9. Keliling Kelas
Dalam menjalankan teknik ini, masing-masing kelompok mendapatkan
kesempatan untuk memamerkan hasil kerja mereka dan melihat hasil kerja
kelompok lain. Di sini siswa bekerja sama dalam kelompoknya. Kemudian,
masing-masing kelompok memamerkan hasil kerja mereka. Hasil ini bisa
dipajang di beberapa bagian kelas. Setelah itu, masing-masing kelompok
berjalan keliling kelas dan mengamati hasil karya kelompok-kelompok
lain.
1.5.10. Lingkaran Kecil Lingkaran Besar (Inside-Outside Circle )
Pada teknik ini siswa bekerja dngan sesama siswa dalam suasana gotong
royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan
meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Separuh kelas berdiri membentuk
lingkaran kecil dan mereka masing-masing berdiri melingkar dan
menghadap keluar dan separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar
lingkaran yang pertama yaitu dengan menghadap ke dalam dan berpasangan
dengan siswa yang berada di lingkaran dalam. Kemudain, dua siswa yang
berpasangan dari lingkaran kecil
dan lingkaran besar berbagi informasi. Setelah itu, siswa yang berada
di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di
lingkaran besar bergeser satu
atau dua langkah searah putaran jarum jam. Selanjutnya giliran siswa
yang berada di lingkaran besar yang membagikan informasi, dan
seterusnya.
1.5.11. Tari Bambu
Teknik Tari Bambu ini siswa berjajar dan saling berhadapan dan siswa
saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan. Pelaksanaan pada
teknik ini yaitu separuh kelas
berdiri berjajar. Jika ada cukup ruang, mereka bisa berjajar di depan
kelas dan separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang
pertama. Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi
informasi. Kemudain, satu atau dua siswa yang beridiri di ujung salah
satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya yang selanjutnya
jajaran ini bergeser sehingga masing-masing siswa mendapatkan pasangan
yang baru untuk berbagi.
1.5.12. Jigsaw
Pada teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang
pengalaman siswa dan membantu siswa untuk saling bekerja sama dengan
siswa yang lain dalam suasana gotong royong. Pada kegiatan ini guru
membagikan tugas yang akan diberikan menjadi empat bagian kepada
masing-masing kelompok yang terdiri dari empat anggota. Bagian pertama
tugas diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua
menerima bagian yang kedua, dan seterusnya. Kemudian, masing-masing
siswa disuruh mengerjakan bagian mereka masing-masing. Setelah selesai,
siswa saling berbagi mengenai bagian yang dikerjakan masing-masing.
Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan
pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan
seluruh kelas.[7]
Pada penelitian ini, penulis menggunakan salah satu teknik di atas yaitu teknik Think-Pair-Share . Alasan penggunaan teknik Think-Pair-Share
adalah bahwa teknik ini selain memberi siswa kesempatan untuk bekerja
sendiri serta bekerja sama dengan siswa yang lain ujga memiliki
keunggulan lain yaitu optimalisasi partisipsi siswa, dengan motode
klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya
untuk ke seluruh kelas. Menurut David and Roger Johnson, teknik ini
melibatkan struktur kooperatif dengan tiga langkah. Pada langkah
pertama, masing-masing siswa berpikir (Think ) tentang pertanyaan dari guru. Pada langkah kedua, siswa berpasangan (Pair ) dan bertukar pendapat. Pada langkah ketiga, masing-masing pasangan saling berbagi (Share
) jawaban dengan pasangan yang lain, kelompok yang lain dan juga
seluruh kelompok bila diperlukan. Teknik ini memberi siswa kesempatan
untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan temannya yang lain.[8]
1.6. Langkah-langkah penerapan teknik Think-Pair-Share
Selain memahami tentang teknik Think-Pair-Share,
guru hendaknya juga memahami langkah-langkah dari penerapn teknik
tersebut. menurut Anita Lie, ada 4 langkah yang bisa diterapkan dalam
pelaksanaan Cooperative Learning dengan teknik Think-Pair-Share. Langkah-langkahnya pada kegitan menulis bahasa Inggris adalah sebagai berikut.
a. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok
b. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
c. S iswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
d. Kedua
pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai
kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.[9]
Dalam kegiatan ini siswa berpikir (think ) untuk menulis tentang apa yang mereka pikirkan dan kemudian berbagi (share ) kepada temannya secara berpasangan (pair
) tentang apa yang telah mereka tulis. Pada kegiatan berpasangan ini
bisa dilakukan dengan pasangan yang lainnya dalam satu kelompok.
_________________________________________________________________________________
[1] David and Roger Johnson. Cooperative Lerning , 2007 ( http//www.clcrc.com)
[2] Jack C. Richards dan Willy A. Renandya. Methodology in Language Teaching, (Cambridge University Press:2002) h 52.
The Microlinguistics Contrastive Analysis Between Javanese Language Of Banyumasan And English
The Morphological analysis on the Javanese Language of Banyumasan
Error Analysis
Conversation Analysis on Deixis
Classroom Action Research
Quantum Teaching
Theory of Translation
Tes dan Evaluasi
Faktor Sosiokultural pada Pembelajaran Bahasa
Kumpulan Analisa Cerpen
Language Acquisition
Learning Style
Effective Public Speaking Skills
No comments:
Post a Comment